Senin, 02 November 2009

Pendidikan Di Pedalaman dan Perjuangannya

Laporan wartawan Kompas.com M.Latief

NUNUKAN, KOMPAS.com — Perjuangan guru-guru di wilayah pedalaman bukan lagi soal gaji yang tak cukup atau transportasi ke lokasi mengajar yang jauhnya bukan main. Kemauan dan kreativitaslah yang mereka butuhkan untuk mmbuat siswanya bersemangat dan mudah menyerap pelajaran.

"Bagaimana kami punya cara atau strategi yang bisa membuat siswa senang dan semangat belajar, buat saya itu lebih dari cukup, soal lain-lainnya bisa belakangan," ujar Suwarni, Kepala Sekolah SMAN 1 Lumbis, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, Senin (5/10), dalam kunjungan Kompas.com mengikuti kegiatan monitoring hasil "Lokakarya Angkatan V Tahap II-Program Pelatihan Pengembangan Profesionalisme Guru dan Kepala Sekolah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)" yang digelar oleh Tanoto Foundation di pedalaman Kabupaten Malinau dan Nunukan, Kalimantan Timur.

Suwarni melanjutkan, mengajar dengan menggunakan alat praktik sederhana, misalnya besi potong dan magnet. Dengan cara itulah, dia sebagai guru fisika mengenalkan langsung mata pelajaran gaya tarik-menarik atau tolak-menolak. Bahkan, Suwarni pun mengaku tak segan menggunakan lagu disertai gerakan tangan, badan, dan kaki untuk membuat siswa bersemangat belajar.

"Memang dituntut untuk kreatif, kita tak bisa lagi cuma mendikte, duduk di depan kelas sementara anak-anak menulis atau menjawab soal. Siswa di sini perlu pembuktian nyata, perlu sesuatu yang rill untuk membuat mereka tertarik mengenai pelajaran yang akan diserapnya," ujar Suwarni, yang mengaku terbiasa melakukan hal-hal semacam itu berkat melakoni kegiatan Pramuka.

Guru ajarkan domino?
Di perkotaan, khususnya kota-kota besar, umumnya para guru tidak terlalu pusing dengan fasilitas untuk mendukung kegiatannya mengajar. Ada kalkulator, komputer, bahkan yang kini semakin hebat dan canggih, yaitu internet. Namun di kawasan pedalaman, "fasilitas" mengajar itu juga dapat diartikan dengan kreativitas guru memanfaatkan apa pun agar siswanya bisa mengerti materi pelajaran yang diberikannya.
Penuturan Djomon Bapila, Kepala Sekolah SD 008 Kalampising, Kabupaten Nunukan, misalnya. Djomon mengaku, dirinya mewajibkan para siswa kelas I untuk membawa batang-batang lidi ke sekolah.

"Lalu saya minta mereka mengikatnya dengan jumlah untuk masing-masing ikat sebanyak 10 lidi. Itulah alat hitung mereka," ujar Djomon.

"Sederhana memang, tetapi hanya itu yang termurah, tercepat, dan termudah untuk diserap oleh siswa. Dengan lidi-lidi ini mereka menjadi aktif belajar dan tak sadar bisa menghitung dengan tangkas," tambahnya.
Lain Djomon, lain pula Sugimun. Guru Matematika SMPN I Lumbis, Kabupaten Nunukan, ini punya cara jitu untuk membuat siswanya tertarik dan mudah mengerti pelajaran Matematikanya. Salah satunya, Sugimun mengajak para siswa bermain gaple atau yang lebih akrab disebut domino.
Ya, "domino Matematika". Domino tersebut, kata Sugimun, sudah dibuktikannya bisa memudahkan siswa mengenal pelajaran Matematika tentang bilangan pecahan.
Tak ubahnya bermain domino, setelah kartu pertama dilempar, kartu berikutnya akan mengikuti. Namun, jika pada domino sesungguhnya berisi kumpulan atau urutan angka-angka, pada "domino Matematika" ini kartu tersebut berisi berbagai bilangan pecahan.
"Saya berpikir, apa pun yang ada di sekitar kita, baik itu di lingkungan rumah maupun sekolah bisa dimanfaatkan. Sederhananya, Matematika itu tidak rumit dan mudah dimengerti siswa, asalkan gurunya bisa memudahkan siswa menyerapnya," ujar Sugimun.
"Pernah, waktu pelajaran tentang bangun bidang, seperti kubus, balok, segitiga, atau kerucut, saya minta siswa melihat ke semua sisi bangunan mulai dari dinding sampai atap, ternyata itu lebih mudah dimengerti ketimbang hanya teori di papan tulis," ujar lulusan Universitas Mulawarman ini.

Kebutuhan pelatihan
Bagi para guru di perkotaan, mengajar bukan masalah besar karena banyaknya kemudahan sarana dan prasarana. Namun, di pedalaman nan jauh dari pusat kota, mereka mengalami banyak kendala untuk meningkatkan kualitas pengajarannya.
Pendapat itu dilontarkan oleh Prof Dr Anita Lie dari EduCon PDC (Educators Continuing Professional Development Center). Anita adalah fasilitator bagi para kepala sekolah dan guru yang menjadi peserta "Lokakarya Angkatan V Tahap II-Program Pelatihan Pengembangan Profesionalisme Guru dan Kepala Sekolah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)" di kawasan Kalimantan Timur ini.
"Apa pun bisa dibuat dan dilakukan secara kreatif agar anak-anak didik mudah menyerap pelajaran mulai dari kardus, botol bekas, menyanyi atau menari," ujar Anita.

"Yang penting guru-gurunya punya kemauan, punya semangat, saya yakin pasti bisa karena di sini sudah terbukti beberapa guru dapat mengaplikasikan kreativitasnya berdasarkan materi pelatihan," tambah Anita.
Sebelumnya, pada tahap lokakarya KTSP tersebut, Anita memberikan berbagai materi khusus untuk meningkatkan kapasitas para guru dalam mengembangkan dan menyusun perencanaan mengajar secara mandiri. Suwarni, Sugimun, serta Djomon adalah tiga dari 46 kepala sekolah dan guru yang mengenyam pelatihan ini.
"Kami hanya berharap, di daerah terpencil seperti ini kreativitas membuat mereka tidak selalu tergantung dengan fasilitas," ujarnya.

1 komentar:

Easy Speak mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.